Home » » PRATIKUM GERENTOLOGI KESEHATAN MENTAL LANSIA ( KESMENLANSIA )

PRATIKUM GERENTOLOGI KESEHATAN MENTAL LANSIA ( KESMENLANSIA )

Written By pagouya diyai on Kamis, 10 Maret 2016 | 22.47

BAB I

1.1    Analisis Situasi
Panti Lansia Al-Ishlah terletak di Gg. 22A Jl. Laksda Adi Sucipto No.30, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Panti ini merupakan satu-satunya panti lansia muslim di kota Malang yang dikelola oleh yayasan Al Ishlah. Di panti ini, tinggal tigabelas lansia yang kesemuanya adalah wanita. Lansia tersebut berasal dari beberapa daerah baik Malang, maupun di luar kota Malang. Dilihat dari segi lingkungan, panti ini terletak di daerah yang cukup sejuk, dengan bangunan yang masih relatif baru, dan rapi. Panti ini resmi dibuka pada tahun 2009, sedangkan pembelian tanah sudah sejak duapuluh tahun sebelumnya. Panti ini berada di bawah yayasan yang sama dengan beberapa pondok pesantren yatim, Al-Ishlah. Pendirinya adalah bapak Mohammad Aidin.
Saat ini panti dikelola oleh panitia inti, dua orang karyawan yang bekerja mengurusi kebersihan panti, dua orang di bagian dapur, serta dua orang pembantu umum. Dalam setiap kamar biasanya diisi dua sampai tiga lansia. Lansia yang tinggal dipanti Al Ishlah ini rata-rata berusia di atas enam puluh tahun. Kebanyakan sudah mengalami demensia, dan Sembilan di antaranya sudah tidak mampu beraktivitas di luar ruangan lagi dikarenakan kondisi yang sudah tidak memungkinkan. Rata-rata lansia panti Al Ishlah menderita hipertensi. Sejak tahun 2009 hingga 2016, tercatat sudah tiga puluh lansia yang tinggal, dan meninggal di panti ini.
Pihak panti sendiri memiliki kebijakan bahwa keluarga yang menitipkan lansia nya harus menjenguk minimal satu bulan sekali, jika tidak, maka lansia akan dikembalikan kepada keluarga lagi. Untuk pendanaan, panti Al Ishlah mendapatkan sumber dana dari yayasan, maupun dana incidental, seperti infaq shodaqoh dari kunjungan-kunjungan insidentil. Selain itu, pihak penanggung jawab atau keluarga lansia juga diwajibkan membayar sebesar Rp. 1. 500. 000,-
Secara teknis, pemberian makan bagi lansia diberikan tiga kali dalam sehari yakni pukul 07.00 pagi, pukul 11.00 pagi, dan pukul 16.00 sore hari. Akan tetapi, lansia diberi kebebasan untuk makan di waktu-waktu selain waktu yang ditentukan tersebut jika diperlukan. Sedangkan, dalam hal penyusunan menu bagi lansia tidak ada pedoman khusus.

1.2    Program yang sedang Berjalan atau Pernah Diberlakukan
Program yang pernah diberlakukan di Pondok Lansia Al-Islah yaitu senam lansia. Namun untuk keberlanjutan program senam bagi lansia ini tidak ada. Hal ini dikarenakan tidak adanya pihak yang mengkoordinasi program tersebut dan dari kondisi lansianya sendiri yang tidak memungkinkan untuk mengikuti program senam lansia secara rutin dan teratur karena kondisi lansia di Pondok Lansia Al-Islah sendiri yang tidak memungkinkan diantaranya ada yang sakit stroke, darah tinggi, dan lain-lain yang menghambat mobilisasi mereka dari tempat tidur.
Program yang sedang berjalan di Pondok Lansia Al-Islah adalah tidak ada program yang sedang berjalan. Untuk program pemeriksaan kesehatan rutin bagi para lansianya sendiri tidak ada atau tidak berjalan atau dapat juga disebut vakum. Hal ini dikarenakan pihak yang diajak bekerjasama untuk melakukan pemeriksaan rutin bagi lansia diPondok Lansia Al-Islah ini yaitu Puskesmas terdekat tidak memberikan sikap yang positif dan mendukung jalannya pemeriksaan kesehatan rutin tersebut. Pihak puskesmas tidak mau datang ke Pondok Lansia Al-Islah untuk melakukan pemeriksaan, selain itu hambatan juga ada bagi pihak Pondok Lansia Al-Islah yaitu kurangnya fasilitas untuk membantu mobilisasi tiap minggunya bagi lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di puskesmas, ditambah juga dengan kondisi fisik lansianya ada yang sudah tidak memungkinkan mobilitas ke puskesmas terdekat sehingga dengan banyaknya hambatan dari pihak puskesmas dan pihak pondok lansia sendiri, program pemeriksaan kesehatan rutin dari kerjasama dengan pihak puskesmas bagi lansia ini tidak berjalan sampai sekarang. Namun untuk penanganan lansia yang mengalami ganggguan kesehatan atau penyakit, pihak panti sudah mempunyai 2 dokter (sosial) yaitu dr. Lesmana dan dr. Durais yang keduanya itu mengobati lansia yang terserang penyakit tanpa digaji oleh pihak pondok lansia. Dua dokter tersebut juga bersedia untuk dipanggil sewaktu-waktu oleh pihak Pondok Lansia Al-Islah untuk membantu penanganan penyakit yang dialami oleh lansia. Jadi dapat dikatakan bahwa di Pondok Lansia Al-Islah tidak ada program pemeriksaan kesehatan rutin bagi lansia, hanya saja ada 2 dokter yang siap dipanggil sewaktu-waktu untuk membantu penanganan penyakit lansia.

1.3    Kesulitan Dan Hambatan Dalam Pelaksanaan Program
Selama proses program berlangsung, kesulitan dan hambatan dalam pelaksanaan program di lansia tersebut yaitu dari segi finansial dan SDM. Menurut Bapak Nur sebagai pengelola Pondok Lansia Al-Ishlah, keuangan di dalam panti tersebut dapat dikatakan masih terbatas. Sumber dana juga hanya berasal dari iuran pihak penanggung jawab dari lansia tersebut. Kendala dalam bidang kesehatan antara lain kurangnya berjalannya kerjasama dengan puskesmas dengan pihak Pondok Lansiauntuk pemeriksaan kesehatan rutin bagi lansia. Oleh karena itu, tidak ada pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan bagi lansia, jika ada lansia yang sakit, selagi dari pihak panti masih bisa mengobati sendiri maka diobati oleh pengurus Pondok Lansia. Namun jika sakit masih berlanjut baru didatangkan dokter ataupun mantri yang secara sukarela melakukan pemeriksaan di Pondok Lanisa Al-Ishlah. Selain itu juga kurangnya fasilitas kendaraan dari pihak panti untuk mengantarkan lansia yang sakit ke pelayanan kesehatan terdekat, mengingat sebagian besar lansia mengalami stroke dan tidak bisa berjalan.
Selain itu, kurangnya anggaran dana juga mengakibatkan kurangnya fasilitas kesehatan yang diberikan kepada lansia. Selama ini sumber dana hanya berasal dari iuran lansia sendiri. Kendala dari tenaga kerja juga sangat terbatas. Hanya ada dua orang yang menggurus lansia dan juga merangkap sebagai juru masak. Mengingat jumlah lansia yang tidak sedikit, masih sangat dibutuhkan lebih banyak lagi penggurus lansia di Pondok Lansia Al-Ishlah.

1.4    Evaluasi Kekurangan Program Yang Telah Berjalan
Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa di Pondok Lansia Al-Islah terdapat beberapa kekurangan yang dapat mempengaruhi tingkat kualitas pelayanan terhadap para lansia. Kekurangan-kekurangan tersebut diantaranya yaitu kurangnya jumlah tenaga kerja atau pengurus di pondok lansia. Telah diketahui bahwa jumlah tenaga kerja atau pengurus pada bagian memasak untuk makanan lansia hanya berjumlah 2 orang, namun dari 2 orang tersebut ternyata tidak hanya bertugas di bagian dapur saja, mereka juga melakukan tugas lain seperti menyuapin para lansia, membersihkan dan memandikan sampai menjemur para lansia di pagi hari. Hal yang menyebabkan para lansia harus diberikan bantuan suapan ketika makan dikarenakan sebagian besar para lansia di Pondok Lansia Al-Islah telah memiliki penurunan fungsi pada kondisi fisik sehingga banyak lansia yang hanya berbaring di tempat tidur.
Selain 2 orang dari petugas masak, terdapat 2 orang petugas kebersihan, dan 2 orang petugas serabutan. Namun dari sejumlah tenaga kerja keseluruhan tersebut, tidak semuanya yang dapat datang bekerja setiap harinya. Hal tersebut sering menyebabkan petugas di bagian tertentu juga melakukan tugas lain atau dapat dikatakan melakukan pekerjaan lebih dari satu jenis pekerjaan. Sehingga dengan merangkap beberapa tugas atau pekerjaan sering membuat tenaga kerja atau pengurus sangat sibuk dan semrawut.
Tidak hanya di tenaga kerja atau pengurus panti, hingga saat ini di panti Al-Islah belum pernah ada program yang dijalankan dengan maksimal atau belum pernah ada program yang berhasil dilakukan di panti tersebut. Hal ini disebabkan karena kebanyakan para lansia di panti Al-Islah sudah tidak memiliki kemampuan atau minat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Selain itu dari pihak pengelola program juga kebanyakan hanya melaksanakan programnya pada saat waktu tertentu saja, tidak dilanjutkan seterusnya.
Pelayanan kesehatan bagi para lansia di panti Al-Islah juga dapat dikatakan memiliki kekurangan. Panti Al-Islah juga telah melakukan kerja sama dengan dinas kesehatan seperti puskesmas yang ada di sekitar wilayah panti tersebut. Namun hal itu tidak dapat berjalan optimal, dikarenakan pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut tidak memberikan pelayanan kesehatan kunjungan di panti tersebut. Puskesmas hanya memberikan pelayanan kesehatan apabila pihak panti yang berkunjung ke puskesmas tersebut. Hal ini tidak memungkinkan dari pihak panti dikarenakan selain dari faktor kondisi para lansia juga dipengaruhi dari kurangnya tenaga kerja yang ada. Pihak panti hanya akan berkunjung ke puskesmas apabila terdapat lansia yang sedang sakit parah dan membutuhkan pertolongan segera.
Kecukupan gizi para lansia di panti Al-Islah juga belum dapat dikatakan optimal.  Hal tersebut dikarenakan meskipun pihak panti telah memberikan berbagai macam menu makanan namun apabila tidak dilakukan manajemen yang baik terkait dengan bagaimana susunan menu makanan setiap harinya yang wajib terpenuhi maka hal tersebut juga akan sia-sia. Pihak panti hanya memberikan makanan sesuai dengan keinginginan para lansia tanpa mempertimbangkan apakah makanan yang diinginkan tersebut sudah memenuhi kecukupkan gizi yang dibutuhkan setiap harinya atau tidak. Dapat dikatakan pihak panti hanya memberikan menu makanan ala kadarnya.





















BAB 2

2.1    Gagasan Yang Diusulkan
Secara umum kebutuhan gizi para lansia sedikit lebih rendah dibandingkan kebutuhan gizi di usia dewasa. Sebagian besar kondisi para lansia di panti Al-Islah sudah tidak mampu melakukan aktivitas fisik dengan baik, karena kebanyakan dari mereka hanya berbaring di tempat tidur maupun duduk di kursi roda. Selain itu juga para lansia di panti tersebut banyak yang sudah mengalami kemunduran baik secara fisik maupun biologis, misalnya giginya ompong, sensitivitas indera berkurang, kurang lancarnya proses pencernaan, dan sebagainya. Oleh karena itu asupan gizi lansia perlu disesuaikan dengan perubahan kemampuan organ-organ tubuh lansia sehingga dapat mencapai kecukupan gizi lansia yang optimal.
Berdasarkan berbagai macam masalah tersebut, maka saya mengajukan sebuah gagasan yaitu “Pengadaan Bubur Sebagai Menu Sarapan Pagi Bagi Lansia”. Alasan dari saya mengajukan gagasan ini dikarenakan di panti Al-Islah belum ada manajemen menu makanan atau jadwal menu makanan untuk menyusun jenis makanan yang diberikan para lansia. Selain itu karena keterbatasan tenaga kerja sehingga di waktu pagi pengurus yang bertugas menyiapkan makan untuk lansia juga disibukkan dengan melakukan pekerjaan lainnya, hal tersebut membuat pengurus bagian dapur bekerja dengan semrawut dan hanya membuat menu sarapan ala kadarnya seperti yang diberikan para lansia di panti Al-Islah untuk menu sarapannya berupa mie, telor, dan tempe. Mereka akan memulai masak menu lengkap ketika mereka selesai melakukan pekerjaan di pagi hari seperti menyuapkan makanan lansia, memandikan, menjemur lansia, dan membersihkan kamar tidur lansia. Menu lengkap yang di masak tersebut akan digunakan untuk makan siang dan sore.
Pada gagasan ini dapat memberikan berbagai kemudahan seperti misalnya dengan membuat menu bubur maka dapat memberikan kemudahan bagi pengurus dapur untuk tidak perlu repot-repot memasak berbagai macam olahan makanan untuk sarapan pagi para lansia, sehingga pengurus masih dapat melakukankan pekerjaan lainnya. Di samping itu juga, bubur sangat efektif diberikan pada lansia hal tersebut dikarenakan bubur merupakan makanan yang halus sehingga dapat memudahkan para lansia untuk mencerna makanan tersebut dan bubur merupakan makanan yang baik untuk lansia sebagai pengganti menu sarapan mie, telor, dan tempe tersebut. Dalam mengolah bubur juga tidak perlu menggunakan banyak bahan-bahan penyedap seperti MSG. bubur dapat diolah dengan berbagai macam bahan tambahan seperti sayur, wortel, telor, daging ayam, dan sebagainya.

2.2    Kendala Gagasan
Kendala yang dapat terjadi apabila gagasan ini disetujui dan diterapkan adalah seperti tambahan biaya. Untuk dapat melaksanakan gagasan ini maka dibutuhkan dana atau biaya dalam pemenuhan kebutuhan bahan-bahannya. Selain itu sifat ketidak-telatenan pengurus dalam mengolah dan menyusun menu makanan juga dapat menjadi hambatan atau kendala dalam pelaksanaan gagasan ini.

2.3    Strategi Penerapan Gagasan
Berikut ini merupakan strategi dilakukan dalam melaksanakan penerapan gagasan ini adalah:
a.         Menyampaikan gagasan ini kepada pengurus dan pengelola panti Al-Islah
b.        Indentifikasi permasalahan yang ada di panti Al-Islah
c.         Identifikasi permasalahan atau kekurangan yang dimiliki para lansia di panti Al-Islah
d.        Diskusi bersama pihak-pihak yang terkait
e.         Menyiapkan persetujuan
f.         Menyiapkan gambaran mengenai mekanisme penerapan program

2.4    Teknik Implementasi Yang Akan Dilakukan
Teknik implementasi dalam gagasan ini adalah menerapkan sebuah menu bubur sebagai menu sarapan di pagi hari untuk para lansia di panti Al-Islah. Dalam mengolah menu bubur ini akan diaplikasikan dengan berbagai jenis bahan seperti sayur, wortel, telur, ataupun daging ayam. Sehingga pemenuhan gizi dalam menu bubur ini akan tetap tercukupi.

2.5    Prediksi Manfaat
Untuk prediksi manfaat yang akan diperoleh apabila gagasan ini dapat dilaksanakan adalah memudahkan pengurus dalam mengolah menu sarapan bagi lansia, hal ini dikarenakan pengolahan menu bubur ini sangat praktis, sehingga tidak perlu repot-repot mengolah berbagai macam jenis makanan untuk sarapan pagi. Selain itu dengan bubur, maka para lansia akan mudah mencerna makanan tanpa harus mengunyah berat-berat. Bubur dapat diolah dengan berbagai macam pengaplikasian bahan makanan lainnya. Dengan bubur, maka pengurus tidak perlu memasak menggunakan bahan penyedap rasa yang berlebihan.

2.6    Pihak-Pihak Terkait
1.      Pengurus dan Pengelola panti Al-Islah
Peran pengurus dan pengelola panti Al-Islah adalah dalam hal mengatur dan menyediakan segala fasilitas pelayanan yang dibutuhkan.
2.      Para tenaga kerja di panti Al-Islah
Peran para tenaga kerja di panti Al-Islah adalah untuk menjaga dan merawat para lansia.
3.      Para lansia di panti Al-Islah
Peran bagi para lansia adalah turut mendukung adanya pelaksanaan gagasan ini sehingga dalam melaksanakan program tersebut mampu memberikan dampak positif bagi mereka



BAB 3

3.1    Kesimpulan
Panti Lansia Al-Ishlah adalah panti muslim yang terletak di Gg. 22A Jl. Laksda Adi Sucipto No.30, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Terdapat 13 lansia di panti Al-Islah. Program yang pernah diberlakukan di Pondok Lansia Al-Islah yaitu senam lansia. Namun untuk keberlanjutan program senam bagi lansia ini tidak ada dan hingga saat ini tidak ada program yang dilakukan, hal tersebut disebabkan oleh beberapa kendala seperti hambatan dari segi finansial dan SDM, selain itu juga dipengaruhi dari kondisi fisik para lansia.
Kecukupan gizi dari para lansia di panti Al-Islah belum dapat dikatakan optimal, dikarenakan di panti tersebut tidak ada manajemen penyusunan menu makanan, sehingga pihak panti hanya memberikan makanan ala kadarnya sesuai keinginan para lansia tanpa memperkirakan kecukupan gizinya. Oleh sebab itu gagasan yang diusulkan yaitu “Pengadaan Bubur Sebagai Menu Sarapan Pagi Bagi Lansia” merupakan gagasan yang salah satu tujuannya adalah untuk menyusun menu sarapan yang baik bagi lansia di panti Al-Islah.















LAMPIRAN



Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : FREE WEST PAPUA | ULMWP | PIF
Copyright © 2016. "BUKIT BINTANG PAGOUYA DIYAI " - All Rights Reserved
Bersuara Untuk Kaum Tak Bersuara Design by Yupiwo Apogo News