Home » » BENTUK KAPITALISME BIDANG KESEHATAN DAN PENGARUHNYA DALAM PERILAKU MASYARAKAT

BENTUK KAPITALISME BIDANG KESEHATAN DAN PENGARUHNYA DALAM PERILAKU MASYARAKAT

Written By Yesaya Ukago on Kamis, 23 Maret 2017 | 10.58





BENTUK KAPITALISME BIDANG KESEHATAN DAN PENGARUHNYA DALAM PERILAKU MASYARAKAT



Abstraksi:
Jurnal ini menjelaskan tentang kapitalisme kesehatan yang mulai muncul pada masyarakat modern saat ini. Kapitalisme kesehatan merupakan salah satu bentuk cabang dari paham kapitalis dalam menanamkan pengaruhnya di masyarakat salah satunya melalui dunia kesehatan. Kemunculan kapitalisme kesehatan ini hadir dalam berbagai bentuk untuk membuat atau bahkan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berbagai tindakan dalam hal yang menyangkut kesehatan diri manusia yang sudah memasuki era modern seperti saat ini.
Keyword: kapitalisme, kesehatan, bentuk dan pengaruh
Pendahuluan:
Kehidupan masyarakat dunia sekarang yang telah memasuki era modern dengan berbagai macam kemewahan dan kemudahan di dalamnya, telah membuat cara pandang masyarakat dalam menjalani hidup telah mengalami banyak perubahan salah satunya dalam melihat dan memahami dunia kesehatan di dalam hidupnya. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh setiap individu dalam menjalani hidup agar dalam setiap kegiatan aktivitas hidupnya dapat dijalankannya dengan baik dan agar tetap produktif. Ia tidak berbeda dengan kebutuhan akan udara, air, dan bahan makanan. Terlebih kesehatan sangat dibutuhkan oleh individu yang hidup dalam masyarakat modern yang ada seperti saat ini karena kesehatan digunakan untuk modal dalam menajalankan kegiatan yang begitu kompleks sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.
Akan tetapi, di bawah kapitalisme, kesehatan seolah-olah menjadi kebutuhan yang eksternal, kesehatan tidak ada bedanya dengan komoditi lain seperti mobil, motor, televisi, dan lain-lain.[1] Jaringan kejahatan atau mafia yang bernama kapitalis telah merambah dunia kesehatan, sehingga orientasi pelayanan kesehatan yakni yang dulunya merupakan sebuah spiritual dan kemanusiaan dikesampingkan dan sehingga sekarang menjadi sebuah orientasi ke arah materialisme. Kapitalisasi kesehatan tampak dari monopoli oleh sekelompok orang, sehingga tidak semua orang bisa dan boleh menyelenggarakan pelayanan kesehatan.[2] Akibatnya, penumpukan modal hanya ada di dalam tangan segelintir orang dan tidak dibagikan kembali secara adil kepada semua orang. Padahal, seperti yang kita ketahui bersama jika kesehatan merupakan sebuah kebutuhan yang menyangkut hajat hidup orang banyak sehingga kesehatan diperlukan oleh setiap masyarakat.
Berdasarkan hal inilah yang dilihat oleh kalangan para paham kapitalis untuk melebarkan pahamnya tentang kapitalis di sektor kesehatan. Kesehatan adalah sesuatu yang utama di dalam kehidupan manusia. Karena berdasarkan kebutuhan kesehatan yang sangat penting itulah mereka mulai menanamkan berbagai penawaran pada sektor kesehatan kepada masyarakat utamanya pada masyarakat modern yang dijadikan sebagai lahan pasar untuk memperkuat pahamnya tersebut. Penawaran yang diberikan oleh para kaum kapitalis dalam sektor kesehatan tidak hanya berupa bagaimana suatu individu dalam masyarakat dapat sembuh atau sehat, tetapi ada tawaran lain yang ditawarkan yaitu penawaran kesehatan untuk gaya hidup atau untuk memperindah diri melalui media kesehatan yang seolah-olah hal itu membuat masyarakat lebih terpikat dan mau untuk melakukannya walaupun sebenarnya mereka sedang tidak merasa sakit tetapi hanya lebih digunakan untuk kepuasan diri suatu individu.
Penawaran yang dibuat para kaum kapitalis ini akan berjalan sesuai dengan rencana karena pada jaman yang modern seperti saat ini, alat atau teknologi yang digunakan untuk membantu proses kesehatan itu dapat menunjang penawaran kesehatan seperti ini yang didukung pula dimana sifat manusia yang tidak pernah merasa puas akan apa yang sudah dimilikinya sehingga akan mendorong penawaran ini akan terus berkembang bahkan maju untuk mengeksploitasi diri suatu individu manusia modern dalam sektor kesehatan. Selain kesehatan untuk gaya hidup atau memperindah diri, ada beberapa penawaran lain yang diberikan oleh para kaum kapitalis di sektor kesehatan yang mencakup berbagai hal mengenai kapitalisme kesehatan dalam kehidupan masyarakat modern yang melalui media pemerintah. Pemerintah dalam hal ini merupakan otoritas tertinggi yang menjalankan setiap roda pemerintahan dengan pengambilan kebijakan untuk masyarakat salah satunya adalah dalam pengambilan kebijakan kesehatan. Dalam konteks kapitalisme bidang kesehatan yang menyangkut pemerintah di sini adalah pemerintah merupakan pemberi kebijakan mengenai kesehatan kepada masayarakat agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau bagi masyarakat. Namun pada realita saat ini, kebijakan pemerintah dalam sektor kesehatan tersebut tidak dapat berjalan dengan baik dan tidak secara maksimal karena pemerintah secara tidak langsung melakukan tindakan dalam melanggengkan para kapitalis untuk dapat berkembang.
Petugas kesehatan seperti tenaga medis merupakan salah satu bentuk penawaran oleh kaum kapitalis karena tenaga medis tersebut adalah salah satu pemeran untuk menguatkan jasa-jasa yang disediakan oleh para kaum kapitalis dengan merubah orientasi seorang petugas kesehatan yang tidak hanya untuk menyembuhkan pasien tetapi juga untuk mencari profit atau keuntungan. Bentuk tawaran yang ketiga adalah penyedia jasa layanan kesehatan yaitu berupa penyedia jasa klinik kesehatan atau usaha yang menyangkut kesehatan milik perorangan atau non praktik dokter yang semakin bertambah. Dan bentuk penawaran terakhir yaitu  komersialisasi obat-obatan yang dilakukan oleh beberapa pihak pabrik farmasi dengan memasarkan obat-obatnya melalui media iklan.
Pembahasan:
            Kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya (Suyanto, 2013, 85). Menurut Robert Lekachman dan Borin van Loon (2008 ; 3), esensi yang mendasar dari kapitalisme antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Modal adalah bagian dari kekayaan suatu bangsa yang merupakan hasil karya manusia dan karenanya bisa di produksi berulang kali
b.      Di bawah system kapitalisme, suatu perlengkapan modal masyarakat, alat-alat produksinya dimiliki oleh segelintir individu yang memiliki hal legal untuk menggunakan hak miliknya guna meraup keuntungan pribadi
c.       Kapitalisme bergantung pada system pasar, yang menentukan distribusi, mengalokasikan sumber daya dan menetapkan tingkat pendapatan, gaji, biaya, sewa, dan keuntungan dari kelas social lainnya.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.[3] Dari dua definisi mengenai kapitalisme dan kesehatan, dapat ditarik pengertian jika Kapitalisme Kesehatan merupakan suatu paham kapitalis yang melihat bahwa pemilik modal dapat melakukan usaha untuk mencari keuntungan dalam segala aspek bidang kegiatan dan proses tindakan yang menyangkut sektor kesehatan.
Bentuk dari kapitalisme dalam bidang kesehatan terdiri dari 4 bentuk yang akan mempengaruhi perilaku masyarakat, 4 bentuk tersebut yaitu:
1.      Pemerintah
Pemerintah merupakan suatu lembaga tertinggi Negara dalam mengurusi suatu pengambilan kebijakan Negara mengenai hajat hidup orang banyak. Pengemabilan kebijakan tersebut tidak terkecuali dalam pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. Pemerintah dalam hal ini memiliki suatu keputusan yang mengikat bagi seluruh masyarakat untuk mematuhi suatu kebijakan yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Keputusan kebijakan pemerintah itu di buat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tak terkeculai kesehatan. Keputusan kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini melalui suatu prosedur yang sudah ditetapkan dalam perundang-undangan Negara, dimana keputusan yang akan dibuat sudah mendapat persetujuan dari orang-orang yang berada di dalam lembaga yang menyetujui dibuatnya kebijakan tersebut.
Dalam hal ini, mengapa pemerintah dijadikan sebagai salah satu bentuk dari kapitalisme kesehatan karena pemerintah dalam membuat suatu kebijakan di dalamnya terdapat berbagai kepentingan dari kelompok yang memiliki ideology yang berbeda-beda sehingga produk kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah terkadang akan condong ke arah mana kebijakan tersebut berbentuk. Untuk menegetahui lebih lanjut sejauh mana peran pemerintah dalam pembuatan kebijakan dapat dilihat sebagai contoh adalah dalam pemerintahan Indonesia. Contoh kebijakan dalam bidang kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang dapat mengindikasikan bahwa adanya bentuk kapitalisme kesehatan melalui pemerintah adalah sebagai berikut.
Dalam APBN 2011, kesehatan rakyat hanya mendapat anggaran sebesar 2,3%.  Padahal, UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mengharuskan anggaran kesehatan paling minimal 5 persen. Anggaran itu pun sebetulnya menurun dari Rp19,8 triliun menjadi Rp13,6 triliun. Pada APBN 2012, situasinya bertambah buruk: anggaran kesehatan hanya dialokasikan sebesar Rp 14,4 triliun atau 1% dari belanja negara.[4] Padahal, dengan biaya kesehatan yang sangat minim, akan semakin banyak rakyat Indonesia yang tidak bisa mengakses kesehatan. Berdasarkan data tersebut, pemerintahan Indonesia yang sudah membuat program jamkesmas untuk rakyat miskin, programnya tidak dapat berjalan dengan lancar karena minimnya anggaran dari pusat, hal inilah yang mendorong nantinya pemerintah “menggandeng” beberapa pihak swasta yang bergerak pada bidang kesehatan untuk agar program kesehatan bagi orang miskin dapat terpenuhi. Seperti yang kita ketahui, pihak swasta tersebut akan membantu pemerintah tetapi dengan beberapa kontrak yang diajukan oleh pihak swasta yang bukan lain tujuannya adalah untuk mendapat keuntungan atau profit.
Kapitalisasi yang dilakukan pemerintah lainnya yaitu berupa rencana pemerintah mengalihkan layanan kesehatan pada mekanisme pasar. Ini nampak dari upaya pemerintah untuk mendorong privatisasi rumah sakit umum milik pemerintah di berbagai daerah. Privatisasi bermakna pengalihan tanggung-jawab negara dalam urusan kesehatan kepada setiap individu warga negara.[5]  Yang utamanya urusan kesehatan adalah merupakan hak dasar warga negara yang mesti menjadi tanggung jawab dan harus dipenuhi oleh negara. Privatisasi juga menjadi langkah pihak swasta untuk merampas layanan publik. Karena dalam privatisasi ini pihak swasta memiliki kewenangan untuk mengatur sendiri keuangannya. Salah satu dampak langsung dari kebijakan privatisasi itu adalah kenaikan biaya layanan rumah sakit di sejumlah daerah. Dengan menguatnya privatisasi sektor kesehatan, mayoritas rakyat Indonesia pun akan semakin tersingkir dari layanan dasar ini.
Contoh bentuk tindakan kapitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di atas yang dimana seharusnya layanan kesehatan merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah akan dialihkan kepada perseorangan atau swasta membuat biaya rumah sakit adalah salah satu bentuk yang menunjukkan bahwa rencana sebuah kebijakan yang dibuat oleh suatu pemerintah memeberikan sebuah arah mau dibentuk seperti apa kebijakan tersebut dan dalam hal ini contoh kebijakan pemerintahan Indonesia menuju ke arah kapitalisme yang mendorong pelayanan kesehatan ditawarkan kepada pihak swasta yang hal ini akan mendorong persaingan kepada pihak swasta untuk mendirikan atau mengambil alih beberapa rumah sakit untuk demi tujuan mencari keuntungan atau profit.
Dua kebijakan yang telah dan akan dibuat diatas nantinya oleh pemerintah nantinya akan mempengaruhi perilaku masyarakat yang ada utamanya dalam bidang kesehatan mengalami perubahan dan mencari jalan keluarnya untuk menghadapi kebijakan tersebut. Perilaku masyarakat yang dapat dilihat misalnya yaitu masyarakat miskin yang tidak mendapat kartu jamkesmas karena minimnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah akan melakukan sebuah tindakan perilaku penyembuhan kesehatan secara tradisional yaitu seperti fatalis, pergi ke dukun, pengobatan alternative dan cara tradisional lainnya. Perilaku tersebut dilakukan karena sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia untuk berobat ke rumah sakit tidak memiliki biaya yang seharusnya masyarakat miskin mendapat akses berobat ke rumah sakit dengan kartu jamkesmas tidak mendapat haknya.
Rencana kebijakan privatisasi rumah sakit yang akan dilakukan oleh pemerintah membuat masyarakat akan berbeda dalam menyikapinya. Masyarakat yang berada di golongan atas atau pengusaha yang memiliki modal akan melakukan tindakan untuk mendapat salah satu rumah sakit yang akan dilepas oleh pemerintah dan mendirikan sebuah rumah sakit swasta baru untung mencari keuntungan sedangkan bagi kelompok masyarakat bawah mau tidak mau melakukan tindakan pengobatan ke rumah sakit yang sudah mendapat privatisasi mengharuskan mereka berobat  jika layanan rumah sakit yang dimiliki oleh pemerintah sudah penuh dan mengeluarkan dengan biaya yang lebih tinggi.
2.      Petugas Kesehatan
Bentuk kedua dari kapitalisasi dalam bidang kesehatan adalah petugas kesehatan atau orang-orang yang terlibat secara langsung dalam masalah bidang kesehatan seperti halnya dalam kapitalisme kesehatan ini yang menjadi sasaran oleh kaum kapitalis adalah para dokter. Seperti yang kita ketahui, dokter adalah salah satu profesi utama atau vital yang ada di dalam bidang kesehatan yang profesi ini memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan kesehatan di dalam masyarakat. Profesi dokter yang sampai sekarang oleh masyarakat dianggap sebagai kaum yang memiliki intelektual tinggi dalam dunia kesehatan, yang membuat profesi dokter menjadi idaman atau pilihan utama yang ingin dapat di raih oleh sebagian masyarakat pada umumnya. Selain dianggap memiliki sebuah intelektualitas yang tinggi dalam bidang kesehatan, dokter juga menjadi salah satu profesi yang mendapat hal pengakuan dalam status seseorang di dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan jaman yang dari tahun ke tahun semakin maju dan modern, membuat profesi dokter sekarang di dalam masyarakat menjadi pilihan utama oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai media orang yang dapat menyembuhkan penyakit mereka. Berangkat dari hal inilah yang dilihat oleh para kaum kapitalis untuk menanamkan paham-paham kapitalis mereka untuk merambah dunia kesehatan salah satunya dengan menjadikan dokter sebagai media untuk mengembangkan paham kapitalis di dalam bidang kesehatan. Sesuai dengan ideology para kaum kapitalis yang menjadi tujuan utama mereka adalah untuk meraih profit atau keuntungan yang sebesar-besarnya, dokter di jadikan sebagai media yang tepat dalam menanamkan ideology ini. Hal ini tak terlepas dari semakin kompleksnya kehidupan manusia saat ini yang mengharuskan adanya ragam lingkup ilmu pengobatan menjadi terdesak untuk melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas, sesuai dengan kompleksitas objek pengobatan yang dijumpai dalam realitas. Sehingga dalam hal ini terjadi proses desakralisasi ilmu kedokteran dimana setiap orang dapat memiliki kesempatan untuk memahami dan memilikinya tentunya setelah menyanggupi syarat dan ketentuan yang diajukan melalui proses pendidikan yang lebih sistematik. Dengan kondisi demikian, pengembangan ilmu pengobatan yang sudah ada sebelumnya menjadi bagian yang tak terpisahkan sehingga mulailah dilakukan penelitian-penelitian dengan bantuan teknologi modern untuk menyempernukan pengetahuan pengobatan yang sudah ada sekarang.
Dengan semakin berkembangnya dunia kedokteran pada saat ini, berdirilah perusahaan farmasi yang menjalin kerjasama dengan para dokter untuk merumuskan obat-obatan yang pas dalam proses penyembuhan kepada pasien. Yang akhirnya kondisi ini membuat pola pengobatan yang di praktekan oleh seorang dokter kemudian terjebak pada sasaran utama dimana pasien yang ditanganinya menggunakan obat-obatan yang berasal dari sebuah perusahaan farmasi yang bekerjasama dengan dokter tersebut.[6] Kondisi ini yang pada akhirnya membuat seorang pasien mengeluarkan biaya berlebih untuk membeli obat tersebut yang hal itu merupakan tujuan ekonomis yang berdalih dijadikan sebagai konsekuensi bayaran jasa dan biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien dari bentuk pengobatan yang modern dan obat yang maju yang dilakukan oleh seorang dokter.
Sisi lain yang menjadikan profesi dokter sasaran oleh para kaum kapitalis yaitu semakin meningkatnya keinginan masyarakat untuk menekuni dunia kedokteran sehingga para kaum kapitalis untuk mengakomodosi kebutuhan tersebut mereka mengalihkannya pada dunia kesehatan terlebihnya pada pendidikan kedokteran. Di dalam institusi-institusi pendidikan kedokteran sekarang yang lebih mementingkan untuk memperoleh asupan dana besar untuk kepentingan materialisme yang pada nantinya akan menciptakan para dokter yang relative berpola pikir seragam.[7] Kesamaan pola pikir yang dibentuk inilah nantinya yang akan membuat para dokter melakukan sebuah tindakan selain untuk menyembuhkan penyakit pasien para dokter juga akan mempertimbangkan pendapatan lebih yang diperoleh dari penyembuhan yang dilakukannya dengan penggunaan metode dan peralatan canggih kedokteran kepada pasien.
Di sisi lain, kesamaan pola pikir yang ditanamkan oleh para kaum kapitalis dalam institusi pendidikan dokter, banyak para dokter jika sudah lulus dari institusi suatu pendidikan dokter akan lebih menginginkan untuk bekerja di dalam sebuah tempat yang rata-rata masyarakatnya memiliki penghasilan tinggi. Karena mereka sadar bahwa biaya yang sudah dikeluarkan dalam menempuh pendidikan dokter tidaklah sedikit, sehingga mereka menginginkan suatu imbalan yang lebih jika sudah menjadi seorang dokter nantinya. Hal ini yang membuat para kaum kapitalis sedikit demi sedikit mulai berhasil merubah apa yang menjadi tujuan utama seorang dokter sebelumnya menjadi selain bertujuan untuk menyembuhkan pasien tetapi juga di sisi lain ingin memperoleh keuntungan lebih dari apa yang telah dilakukannya untuk menjadi seorang dokter.
Bentuk kapitalisasi yang dilakukan oleh para kaum kapitalisme kepada dokter adalah banyaknya dokter yang sudah bekerja pada sebuah instansi kesehatan seperti halnya rumah sakit masih membuka pelayanan kesehatan di rumah mereka atau bahkan mendirikan klinik-klinik kesehatan yang di luar rumah mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa seorang dokter juga memiliki tujuan beruapa keinginan untu memperoleh profit atau keuntungan yang berlebih di luar pekerjaan utama mereka dengan modal berupa keahlian profesi yang mereka miliki. Seperti yang kita ketahui sekarang, banyak dokter baik yang sebagai dokter umum atau menyandang gelar spesialis setidaknya memiliki sebuah klinik atau bahkan membuka cabang klinik lain dengan memperkerjakan dokter yang memiliki keahlian sama. Mereka menempatkan kliniknya atau lokasi prakteknya di daerah atau lokasi strategis yang dapat dilihat oleh masyarakat. Hal ini menjadikan bahwa kapitalisasi kedokteran semakin berkembang dimana dalam praktek seperti ini para dokter memiliki strategi pemasaran untuk mengenalkan paket yang ditawarkan oleh kliniknya berdasarkan modal keahlian mereka kepada para pasien jika ingin mengunjungi kliniknya.
Kegiatan yang dilakukan oleh para dokter ini merupakan suatu tindakan untuk menyikapi semakin banyaknya masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang tidak di dapat di rumah sakit karena suatu hal. Keadaan ini semakin membuat pelayanan medis milik pemerintah seperti puskesmas semakin kalah pamor karena maraknya praktik kesehatan yang dilakukan oleh para dokter dengan membuat klinik kesehatan di tengah masyarakat. Seperti contoh adalah dalam melihat trend atau gaya hidup sekarang yang sedang berkembang dalam masyarakat, seorang dokter gigi membuka sebuah klinik di suatu tempat dan klinik tersebut menyediakan paket layanan untuk kesehatan gigi. Tetapi dokter gigi itu juga menyediakan layanan kesehatan gigi lainnya seperti pemasangan kawat gigi kepada para pasien yang menginginkan memiliki gigi rapi ataupun yang hanya untuk mengikuti trend saat ini yang ada di masyarakat tentunya dengan harga yang sudah ditentukan sebelumnya oleh dokter. Hal ini membuat para dokter gigi lainnya tidak mau kalah sehingga menyediakan pelayanan kesehatan gigi yang sama untuk dapat bersaing meraih pasien dengan harga yang berbeda. Contoh dokter lainnya adalah dokter spesialis kulit dan kelamin yang sudah bekerja di sebuah instansi rumah sakit, juga mendirikan sebuah klinik di tengah masyarakat dengan keahlian yang sama dengan menawarkan beberapa paket pelayanan kesehatan seperti yang lagi popular di masyarakat sekarang seperti menghilangkan jerawat dan diet. Dari hal itu, seorang dokter dengan spesialis yang sama akan memberikan metode dan obat yang berbeda antara satu sama lain dalam pelayanan kesehatan yang sama karena perbedaan peralatan teknologi kesehatan yang dimiliki oleh dokter satu sama lain. Sehingga hal ini mendorong para dokter untuk lebih berinovatif dan memberikan jasa pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi masyarakat agar mendapat profit atau keuntungan.
Kapitalisasi dalam dunia kedoteran diatas yang dilakukan oleh para kaum kapitalis mempengaruhi terhadap pola perilaku yang dilakukan oleh masyarakat. Seperti halnya pengaruh kapitalisasi dalam dunia pendidikan kedokteran, membuat masyarakat akan melakukan sebuah tindakan untuk dapat mengembalikan “modal” yang sudah dikeluarkan untuk menjadi seorang dokter dengan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi untuk dapat masuk dalam dunia pendidikan kedokteran.
Kapitalisasi kedokteran itu tidak terlepas dari para kaum kapitalis yang dapat melihat bahwa kesehatan tidak hanya menjadi sebuah kebutuhan tetapi juga sebagai keinginan untuk mengikuti trend atau gaya hidup dalam masyarakat. Seperti halnya marak berdirinya klinik yang dibuat oleh dokter kesehatan baik gigi atau spesialis diatas yang berupa modal keahlian profesi mereka akan berpengaruh pada perilaku masyarakat yaitu menjadikan masyarakat yang konsumtif pada kesehatan. Seperti yang di katakan Baudrillard bahwa objek sasaran yang paling banyak menjadi lahan bagi kekuatan kapitalis untuk menawarkan produk industri budaya yaitu salah satunya adalah tubuh manusia yang bisa dikatakan sebagian besar uang mereka untuk merawat, mempercantik, membentuk tubuh yang ideal (Suyanto, 2013 ; 120). Hal ini menunjukkan bahwa produk tawaran kesehatan yang diberikan oleh dokter berupa pemasangan kawat gigi dan menghilangkan jerawat atau diet tidak hanya semata dianggap oleh masyarakat sebagai murni kesehatan, tetapi mereka ingin berperilaku untuk menajadikan dirinya lebih indah dan ideal kepada orang yang melihatnya sehingga mereka berperilaku konsumtif demi keinginan lainnya tersebut.
3.      Penyedia jasa kesehatan
Bentuk kapitalisme kesehatan yang ketiga adalah melalui penyedia jasa kesehatan yang sekarang banyak kita jumpai di tengah masyarakat. Penyedia jasa kesehatan tersebut hampir sama seperti yang dilakukan oleh para dokter yang mendirikan beberapa klinik kesehatan, tetapi penyedia jasa kesehatan seperti ini berbeda dengan para dokter dalam hal pelayanan kesehatan yang ditawarkan kepada masyarakat. Jika para dokter mendirikan klinik untuk tujuan praktik kesehatan mereka dan dimiliki oleh dokter tersebut, tetapi yang dilakukan oleh penyedia jasa kesehatan disini cenderung dimiliki oleh para pihak swasta atau perorangan non dokter yang mendirikan sebuah penyedia jasa kesehatan bagi masyarakat dengan tujuan untuk salah satunya mengomersilkan kliniknya yang berorientasi selain pada kesehatan tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mengikuti trend atau mode gaya hidup masyarakat. Mereka para penyedia jasa kesehatan ini dalam mendirikan kliniknya memiliki strategi pemasaran untuk memperkenalkan produknya bahkan metode pengobatan yang mereka lakukan dalam praktik kesehatan untuk menarik minat masyarakat mengunjungi klinik kesehatan mereka.
Penyedia jasa kesehatan yang sekarang banyak berada di tengah masyarakat adalah seperti penyedia jasa kesehatan untuk mata, kulit atau kecantikan. Banyak toko-toko optik atau kaca mata dan klinik perawatan kulit yang sekarang mereka tidak hanya melayani untuk kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi mereka juga memberikan sebuah brand atau merk pada produk mereka. Para kaum kapitalis seolah mengetahui apa yang di butuhkan masyarakat dalam trend atau gaya hidup yang sedang diminati oleh masyarakat sekarang. Sepeti misalnya dalam kesehatan mata, seseorang yang memiliki usaha yang bersangkutan dengan mata yaitu usaha optik atau kacamata melihat kondisi ini sebagi peluang bisnis untuk memperkenalkan produk mereka bahkan mengenalkan toko usaha optic mereka untuk dapat dikenal oleh masyarakat.
Salah satu strategi pemasaran yang dipakai oleh para pemilik usaha optic dengan mengetahui bahwa masyarakat pada umumnya mengalami gangguan kesehatan mata seperti rabun jauh, rabun dekat atau silinder, maka para pengusaha optic dengan menawarkan pelayanan kesehatan mata seperti pemeriksaan mata yang dilakukan secara gratis di dalam toko tersebut dengan bantuan teknologi kedokteran mata. Setelah melakukan pemeriksaan mata, maka para pengusaha optic akan memberikan hasil pemeriksaan matanya kepada pasien seperti apakah hasil dari pemeriksaan yang sudah dilakukan tadi dan seberapa besar gangguan kesehatan mata yang dialami oleh seorang pasien. Setelah memberikan hasil pemeriksaan, pengusaha optic akan sekaligus menawarkan kacamata apa yang harus digunakan oleh pasien berdasar besar gangguan kesehatan mata pasien, dan kemudian pengusaha optic sekaligus melakukan penawaran pada pasien dengan menawarkan berbagai model kaca mata dengan berbagai bentuk sekaligus menuliskan brand kepada kacamatanya. Tindakan pengusaha optic ini tidak lain adalah untuk menarik minat para pasien untuk datang ke klinik mereka dan membeli kacamata mereka yang tidak lain adalah untuk memperoleh keuntungan.
Selain usaha optic, kapitalisasi kesehatan yang semakin marak adalah berdirinya klinik perawatan kulit dan kecantikan yang dilakukan oleh para pengusaha. Banyak klinik pelayanan kesehatan kulit dan kecantikan yang menawarkan berbagi metode penawaran perawatan kulit dan kecantikan dengan bahan-bahan yang berbeda anatara satu klinik dengan yang lainnya berbeda. Hal ini yang mendorong para pemilik usaha perawatan kulit dan kecantikan bersaing untuk menarik para masyarakat berkunjung ke kliniknya dengan memberikan paket harga yang berbeda antara satu klinik dengan klinik yang lain. Bentuk kapitalisme seperti inilah yang nantinya akan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menyikapi kesehatan mereka. Perilaku mereka dalam menyikapi kesehatan mereka tidak terlepas dari gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang ini. Seperti yang kita ketahui, unsur-unsur yang membentuk gaya hidup seperti cara berpakaian, cara kerja, pola konsumsi merupakan cara bagaimana individu dalam mengisi kesehariannya (Suyanto, 2013 ; 138). Seperti misalnya perilaku masyarakat dalam menyikapi gangguan kesehatan mata, para penderita gangguan kesehatan mata sekarang selain membutuhkan kaca mata untuk membantu penglihatan mereka, mereka juga akan mempertimbangkan baik gaya atau model kacamata yang akan digunakan dalam kehidupan sehari-harinya sehingga pengguna bisa merasa indah ketika dipandang dalam lingkungan sosialnya.
Hal lain yang akan mempengaruhi perilaku masyarakat selain kesehatan mata dalam bentuk kapitalisasi jasa pelayanan kesehatan yaitu dari semakin banyak berdirinya klinik kulit dan kecantikan yang ada di masyarakat, membuat masyarakat akan berperilaku mencitrakan diri pada lingkungan sosialnya. Hal ini akan membentuk sebuah perilaku kelompok masyarakat pesolek (dandy society) yang lebih mementingkan penampilan diri daripada kualitas kompetensi yang sebenarnya (Suyanto, 2013 ; 153).
4.      Komersialisasi obat
Bentuk kapitalisme kesehatan ke empat atau yang terakhir adalah komersialisasi obat. Di dalam dunia kesehatan, obat adalah merupakan bagian penting dan tidak dapat dipisahkan dari proses penyembuhan suatu penyakit yang diderita oleh pasien. Dalam hal ini obat merupakan bagian vital penunjang penyembuhan suatu penyakit selain dari analisa dokter dan teknologi kedokteran yang ada. Hal ini membuat obat sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan menjadi ladang bisnis yang menjadi objek sasaran oleh para kaum kapitalis dalam menanamkan paham nya di bidang kesehatan.
Dalam kapitalisasi obat ini, para kaum kapitalis menggunakan strategi pemasaran dengan menggunakan cara komersialisasi atau penyebarluasan produk obat dari suatu perusahaan ke masyarakat dengan menggunakan media iklan baik secara visual melalui televisi, baliho ataupun melalui radio. Komersialisasi melalui iklan merupakan strategi pemasaran yang dianggap lebih tepat oleh para pemilik usaha obat-obatan yang dalam hal ini adalah para pemilik pabrik farmasi untuk memperkenalkan produk obat mereka kepada masyarakat luas. Dapat dikatakan seperti itu karena iklan telah terbukti mempunyai kekuatan dahsyat untuk membujuk nafsu dan hasrat (desire) konsumen terhadap produk barang maupun jasa di masyarakat melalui asosiasi-asosiasi ideology citra yang dibangunnya (Kasiyan, 2008 ; 2).
Cara komersialisasi obat melalui iklan yang dilakukan oleh pabrik farmasi ini, memiliki tujuan untuk membuat masyarakat agar mengetahui produk-produk obat yang dibuatnya dengan harapan masyarakat akan membeli obat mereka. Karena menurut Berkhouver, iklan adalah setiap pernyataan yang secara sadar ditujukan kepada public dalam bentuk apa pun yang dilakukan peserta lalu lintas perniagaan untuk memperbesar penjualan barang-barang dan jasa (Suyanto, 2013 ; 225). Obat-obatan yang dikomersialisasikan oleh pabrik perusahaan farmasi ini sebelumnya telah mendapat lisensi atau di legalkan oleh badan yang berwenang mengawasi obat. Biasanya, pabrik farmasi akan mengkomersilkan obat buatan mereka yaitu berupa obat-obatan yang memiliki kegunaan praktis untuk penyakit-penyakit ringan seperti batuk, flu, demam, pusing, sakit perut dan lain-lain. Dalam komersialisasi obat ini, para kaum kapitalis mengetahui jika sakit-sakit seperti itu merupakan sakit yang mayoritas masyarakat mengalaminya dan terjadi hampir di semua orang setiap harinya. Sehingga hal ini dijadikan sebagai langkah awal untuk memasarkan produk obat mereka kepada masyarakat agar masyarakat jika mengalami sakit tersebut tidak perlu ke dokter.
Para perusahaan farmasi, dalam mengkomersilkan produk obatnya juga tidak hanya dalam satu jenis bentuk obat, tetapi mereka juga memberikan varian lain walaupun memiliki nama obat yang sama. Ini merupakan salah satu langkah lain yang dilakukan oleh perusahaan farmasi dalam memikat masyarakat untuk membeli obat yang sama namun dengan varian yang berbeda. Karena lewat iklan para produsen tidak hanya memberikan informasi tentang produk yang bisa di konsumsi masyarakat, melainkan secara terus-menerus mempengaruhi, membujuk, merangsang dan menciptakan kebutuhan baru dalam masyarakat kontemporer secara seragam dan universal (Kasiyan, 2008 ; 197).
Selain dari iklan, sasaran distribusi penjualan dalam komersialisasi obat yang dilakukan oleh para kaum kapitalis juga mulai merambah di tempat yang bukan merupakan penjualan obat. Seperti halnya yang kita ketahui jika kita ingin membeli obat-obatan yang di luar resep dokter seperti obat untuk sakit ringan, kita tidak perlu pergi ke apotik untuk mendapatkannya. Karena kita dapat membeli obat-obat itu di tempat perbelanjaan, toko pinggir jalan bahkan di koperasi kantor atau sekolah. Hal inilah yang menjadi komersialisasi obat di masyarakat semakin membuat para perusahaan farmasi mendapat keuntungan yang lebih karena selain mengkomersilkan melalui iklan, lokasi tempat pemasaran atau penjualan produknya tidak terbatas hanya pada satu lokasi saja tetapi di beberapa lokasi yang sehingga para perusahaan farmasi dalam mengembangkan produk obatnya semakin besar.
Komersialiasi obat yang dilakukan oleh perusahaan farmasi melalui iklan juga ditunjang oleh beberapa idiom, slogan, nada dan kata-kata yang ditampilkan ketika terus-menerus diulang, maka tidak lagi penting konteks situasinya, karena di benak masyarakat biasanya telah terkonstruksi sedemikian rupa atas seluruh makna simbolis yang ditawarkan iklan (Suyanto, 2013 ; 231). Yang hal ini ditujukan untuk membuat para masyarakat lebih mudah menentukan obat mana yang di akan di konsumsi ketika masyarakat mengalami sakit. Dalam hal ini, perusahaan farmasi akan memberikan khasiat lain yang ditunjukkan dalam kemasan obat sehingga masyarakat lebih percaya untuk mengkonsumsi obat tersebut mereka nantinya akan dapat sembuh setalah meminumnya.
Kapitalisme kesehatan dalam bentuk komersialisasi obat ini telah membuat pengaruh yang besar kepada perilaku masyarakat dalam menentukan obat seperti apa yang akan dikonsumsi atau diminum jika suatu saat nanti seorang individu dalam masyarakat mengalami sakit seperti itu. Seperti komersialisasi obat memalui iklan dalam pandangan cultural studies menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan gaya hidup (Piliang, 2003 ; 290).
Perilaku masyarakat yang dapat kita lihat dari adanya komersialisasi obat ini adalah bagaimana masyarakat akan melakukan perilaku dalam menentukan obat yang dipilih dalam menyembuhkan sakitnya akan cenderung seolah-olah kecanduan untuk mengkonsumsi obat dengan merk tertentu yang sama ketika jika pada saat membeli pertama kali dia berhasil sembuh. Namun, jika dalam menentukan obat yang dipilih sesuai dengan merk yang ada di iklan iklan tidak berhasil, maka masyarakat akan memilih obat lain dengan merk yang berbeda walaupun dengan fungsi untuk menyembuhkan sakit yang sama.
Perilaku lain yang dapat dilihat dari adanya komersialisasi obat di masyarakat adalah dimana konsumen atau masyarakat di sosialisasi dan diarahkan untuk mengembangkan perilaku imitative yaitu mencontoh apa yang dilakukan idola atau ikon budaya yang menjadi bintang dalam iklan (Suyanto, 2013; 241). Jika seorang bintang iklan yang ditampilkan lebih suka memilih obat dengan merk tertentu dalam menyembuhkan sakitnya, maka otomatis konsumen yang melihat iklan itu akan memilih produk yang sama karena bintang pujaannya memilih produk itu. Sehingga dalam hal ini dapat dilihat jika logika iklan senatiasa mengandalkan kekuatan bahasa atau kata bernada sugestif, agitatif, sloganistis dan tidak jarang bombastis (Ibrahim, 2011 : 291).
Pengaruh dari bentuk komersialisasi obat terhadap perilaku masyarakat yang terakhir adalah masyarakat akan lebih mudah dengan cepat membeli obat yang dilihat di iklan dengan tidak terlebih dahulu pergi ke dokter atau memeriksakan penyakitnya ke puskesmas. Sehingga tindakan ini membuat masyarakat lebih mudah tidak untuk segera pergi ke dokter tapi menunggu ke ampuhan atau seberapa cepat reaksi obat itu berlangsung terhadap penyembuhan penyakitnya. Hal ini akan menjadikan masyarakat akan memiliki sikap dan perilaku yang dapat menimbulkan sikap malas pergi ke dokter atau layanan kesehatan lainnya.
Kesimpulan:
Di dalam kehidupan masyarakat yang komplek seperti saat ini, kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menjalani hidup. Hal inilah yang membuat munculnya kapitalisme kesehatan dengan berbagai bentuk dan mempengaruhi terhadap perilaku suatu masyarakat. Bentuk dari kapitalisme dalam bidang kesehatan dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu antara lain:
1.      Pemerintah
Bentuk kapitalisasi kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah adalah minimnya anggaran yang dikeluarkan untuk program pelayanan kesehatan bagi orang miskin yang sehingga membuat pemerintah “menggandeng” beberapa pihak swasta yang bergerak pada bidang kesehatan untuk agar program kesehatan bagi orang miskin dapat terpenuhi. Bentuk kapitalisasi lainnya adalah rencana pemerintah mengalihkan layanan kesehatan pada mekanisme pasar. Ini nampak dari upaya pemerintah untuk mendorong privatisasi rumah sakit umum milik pemerintah di berbagai daerah. Karena dalam privatisasi ini pihak swasta memiliki kewenangan untuk mengatur sendiri keuangannya. Perilaku yang ada dari bentuk kapitalisasi kesehatan yang dilakukan pemerintah adalah mendorong persaingan kepada pihak swasta untuk mendirikan atau mengambil alih beberapa rumah sakit untuk demi tujuan mencari keuntungan atau profit. Kurangnya anggaran kesehatan untuk masyarakat maka masyarakat melakukan sebuah tindakan perilaku penyembuhan kesehatan secara tradisional yaitu seperti fatalis, pergi ke dukun, pengobatan alternative dan cara tradisional lainnya.
2.      Petugas Kesehatan
Bentuk kedua dari kapitalisasi dalam bidang kesehatan adalah petugas kesehatan atau orang-orang yang terlibat secara langsung dalam masalah bidang kesehatan seperti halnya dalam kapitalisme kesehatan ini yang menjadi sasaran oleh kaum kapitalis adalah para dokter. Bentuk kapitalisme kesehatan yang dilakukan pada dokter adalah melalui kerjasama dengan pihak perusahaan farmasi dalam penemuan obat, biaya institusi pendidikan kedokteran dan membuka praktik kesehatan secara umum walaupun sudah bekerja di suatu institusi kesehatan. Perilaku dari kapitalisme ini yang muncul adalah membuat masyarakat akan melakukan sebuah tindakan untuk dapat mengembalikan “modal” yang sudah dikeluarkan untuk menjadi seorang dokter dengan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi untuk dapat masuk dalam dunia pendidikan kedokteran. Masyarakat ingin berperilaku untuk menajadikan dirinya lebih indah dan ideal kepada orang yang melihatnya dengan mengunjungi praktek dokter yang ada sehingga membuat mereka berperilaku konsumtif.
3.      Penyedia Jasa Kesehatan
Bentuk ketiga dari Kapitalisme kesehatan adalah Penyedia jasa kesehatan. Yang dilakukan oleh penyedia jasa kesehatan disini cenderung dimiliki oleh para pihak swasta atau perorangan non dokter yang mendirikan sebuah penyedia jasa kesehatan bagi masyarakat dengan tujuan untuk salah satunya mengomersilkan kliniknya yang berorientasi selain pada kesehatan tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mengikuti trend atau mode gaya hidup masyarakat. Penyedia jasa kesehatan yang sekarang banyak berada di tengah masyarakat adalah seperti penyedia jasa kesehatan untuk mata, kulit atau kecantikan. Perilaku yang muncul dari bentuk kapitalisme kesehatan ini adalah membuat masyarakat juga mempertimbangkan keindahan dan trend sekarang selain memenuhi kebutuhan kesehatannya dan membentuk sebuah perilaku kelompok masyarakat pesolek (dandy society) yang lebih mementingkan penampilan diri daripada kualitas kompetensi yang sebenarnya.
4.      Komersialisasi Obat
Bentuk keempat dari Kapitalisme kesehatan adalah Komersialisasi Obat. Bentuk kapitalisme kesehatan yang dilakukan dalam komersialisasi obat ini adalah menggunakan media iklan baik visual seperti televisi, baliho ataupun lewat radio. Ke dua, sasaran distribusi penjualan dalam komersialisasi obat yang dilakukan oleh para kaum kapitalis juga mulai merambah di tempat yang bukan merupakan penjualan obat. Pengaruh perilaku yang muncul dari bentuk kapitalisasi ini adalah perilaku masyarakat dalam menentukan obat yang dipilih dalam menyembuhkan sakitnya akan cenderung seolah-olah kecanduan untuk mengkonsumsi obat dengan merk tertentu, dimana konsumen atau masyarakat di sosialisasi dan diarahkan untuk mengembangkan perilaku imitative yaitu mencontoh apa yang dilakukan idola atau ikon budaya yang menjadi bintang dalam iklan dan membuat masyarakat lebih mudah tidak untuk segera pergi ke dokter tapi menunggu ke khasiatan atau seberapa cepat reaksi obat itu berlangsung terhadap penyembuhan penyakitnya.


DAFTAR PUSTAKA
Suyanto, Bagong. 2013. Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post Modernisme.  Jakarta: Kencana Prenada.
(Diakses Tanggal 28 Desember pukul 18.57 WIB)
http://beritasore.com/2009/06/13/mafia-telah-merambah-dunia-kesehatan/ (Diakses Tanggal 30 Desember 2013 pukul 09.10 WIB)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan (Diakses Tanggal 30 Desember 2013 pukul 12.39 WIB)
http://astaqauliyah.com/blog/read/381/kapitalisme-di-dunia-kedokteran.html#_, (Diakses Tanggal 28 Desember 2013 pukul 19.00 WIB)








Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : FREE WEST PAPUA | ULMWP | PIF
Copyright © 2016. "BUKIT BINTANG PAGOUYA DIYAI " - All Rights Reserved
Bersuara Untuk Kaum Tak Bersuara Design by Yupiwo Apogo News